Maju-Mundur Impementasi E-Learning di Sekolah..??

Apa kabar yah e-learning di sekolah..?? saya sebagai salah satu pekerja IT yang kebetulan bekerja di salah satu Yayasan Pendidikan yang mengelola jenjang TK, SD, SMP dan SMA sampai saat ini belum dapat mewujudkan e-learning di sekolah tempat saya bekerja. Kira-kira apa yah kendala yang paling mendasar hingga hal tersebut masih belum dapat terwujud dengan lancar.

Istilah e-learning sendiri mulai booming di sekolah-sekolah di Indonesia pada sekitar tahun 2006, namun sayangnya pemanfaatanya kurang baik sehingga timbul kesan untuk menerapkan e-learning di sekolah membutuhkan biaya yang sangat mahal dan infrastruktur TIK yang kompleks.

Ketika mulai booming aplikasi e-learning dengan sistem kode terbuka malah juga tidak menjadikan hal yang mudah bagi sekolah untuk menerapkan e-learning di sekolah mereka.

Kira-kira apa yah kendala mendasar ketidak efektifan penerapan e-learning di setiap sekolah yang hingga kini masih belum mencapai klimaksnya…??

Sebelumnya saya ingin memberikan sedikit pemahaman mendasar mengenai e-learning menurut bahasa saya yang tentunya banyak masukan dan sumber yang saya dapatkan.

E-Learning atau Electronic Learning atau Pembelajaran Elektronik yang dapat disimpulkan menjadi “Mendigitalkan proses kegiatan belajar dengan media Elektronik”. Media elektronik di sini bisa saja komputer, atau perangkat-perangkat elektronik lainnya.

Namun seiring dengan perkembangan teknologi komputer dan internet, penerapan dan pemanfaatan e-learning lebih mudah diterapkan dengan menggunakan sistem komputer dengan menggunakan akses internet di dalamnya.

Dengan demikan muncullah beberapa komponen pendukung demi lancarnya proses pembelajaran digital tersebut, diantaranya sebagai berikut :

  1. Infrastruktur : Yang masuk ke dalam kategori infrastruktur diantaranya dapat berupa PC, Notebook, Jaringan Komputer, Koneksi Internet, serta peralatan-peralatan multimedia pendukung lainnya seperti pengeras suara, kamera dan lainnya.
  2. Aplikasi e-Learning : Merupakan suatu program pendukung yang fungsinya dapat memvirtualisasikan proses belajar mengajar pada umumnya (konvensional). Seperti kegiatan belajar mengajar pada umumnya aplikasi e-learning harus dapat menggantikan proses migrasi konten konvensioan ke digital, proses pengaturan kelas, proses pengaturan nilai, proses pelaporan akhir siswa, proses ujian secara online serta fungsi lainnya. Istilah yang umum untuk aplikasi e-Learning adalah LMS (Learning Management System). Kita patut bersyukur karena banyak sekali aplikasi LMS dengan kode terbuka (open source) yang dapat digunakan untuk menerapkan e-learning di sekolah.
  3. Konten Pembelajaran : Konten pembelajaran yang dapat digunakan pada sistem e-learning dapat berupa teks dengan gambar seperti buku pada umumnya, atau dapat juga konten multimedia yang sudah dilengkapi ilustrasi dari konten, seperti animasi pembelajaran dengan materi tertentu.

Sepertinya tidak sulit menerapkan e-learning di sekolah dengan tingkatan SD, SMP maupun SMA, lalu kenapa yah perkembangan dan pemanfaatannya hingga sekarang masih seperti barang mewah saja, mungkin beberapa faktor berikut dapat memberikan gambaran kenapa e-learning masih belum dapat diterapkan secara maksimal.

  1. Ada kesan dengan adanya e-learning tugas dan fungsi utama guru akan terganggu.
  2. Ketidaksiapan guru-guru di Indonesia dengan perkembangan teknologi membuat e-learning masih menjadi hal yang sulit untuk diterapkan di setiap sekolah.
  3. Ada kesan menjadi tugas tambahan bagi guru sedangkan rewardnya tidak bertambah.
  4. Pimpinan sekolah dinilai sangat tergesa-gesa menerapkan e-learning tanpa mempertimbangkan dukungan SDM yang masih belum memadai, sehingga membuat e-learning hanyalah tren sesaat.
  5. Infrastruktur TIK yang masih belum memadai juga dapat menjadi hambatan penerapan e-learning di sekolah.
  6. Ketidak siapan membuat konten pembelajaran maupun soal evaluasi secara digital.

Kemudian langkah apa saja yang mungkin diambil oleh sekolah untuk menerapkan e-learning dengan lancar :

  1. Bentuk tim migrasi e-learning dengan target dan reward yang jelas, hal ini akan memberikan motivasi dan dorongan kepada SDM yang terlibat.
  2. Jangan tergesa-gesa untuk segera menerapkannya secara massal pada setiap kelas, mulailah dari 1 kelas percontohan dengan SDM yang telah ditentukan sebelumnya.
  3. Siapkan tenaga IT yang rela meluangkan waktunya penuh demi lancarnya program e-learning di sekolah, ingat seorang pekerja IT jangan selalu dituntut untuk bisa melakukan segala pekerjaan IT secara pararel, porsi kerja juga harus menjadi pertimbangan utama pihak sekolah.
  4. Lakukan evaluasi dan pertemuan intensif dengan tim migrasi e-learning yang sudah dibentuk. Hal ini dilakukan agar progres migrasi dapat terukur dengan baik.
  5. Siapkan SDM Guru yang rela memfokuskan waktunya untuk membuat konten pembelajaran untuk sistem e-learning secara bertahap. Misalnya mulai dari jenjang kelas I, setelah konten siap, uji coba terlebih dulu, begitu seterusnya.

Semoga saja catatan ringan di atas memberikan ide bagi setiap sekolah yang ingin mulai menerapkan e-learning atau bagi sekolah yang sudah menerapkan dan berjalan di tempat dapat dijadikan sebagai inspirasi. Sumber-sumber tulisan mengenai e-learning sangat banyak sekali di internet, salah satu yang menurut saya sangat mudah dipahami dan ditindak lanjuti adalah catatan pada Blog Bapak Romi Satria Wahono pada link berikut :

  1. http://romisatriawahono.net/2008/01/23/meluruskan-salah-kaprah-tentang-e-learning/
  2. http://romisatriawahono.net/category/elearning/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: